Langsung ke konten utama

Pesona Jembatan Emas

........

Sore itu tepatnya Sabtu, 17 Oktober 2020. Aku sengaja pergi mengunjungi tempat yang aku rasa itu bisa menenangkan pikiran, menghilangkan stress dan mengusir kebosananku. Menjauh dari bisingnya dunia, menjauh dari bayang-bayang angan. Sendirian tanpa melibatkan orang. Aku biasa mengunjungi tempat-tempat yang aku sukai, tempat yang ku rasa bisa membuat diri kembali berenergi. 

Di sebuah jembatan Emas. Tempat dimana orang-orang datang sekadar untuk refreshing atau memanfaatkan waktu luangnya, apalagi di masa pandemi ini yang dimana orang2 lebih banyak di rumah. 

Sore itu... Aku sengaja pergi menggunakan motor Vario Merah kesayanganku, menggunakan helm GM berwarna hitam, lengkap dengan jaket dan masker. Aku berangkat sekitar pukul 5 sore. Aku melejit di jalan Raya, Ku tancap gas dan menyalip-nyalip dengan lincah. Tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana. Ketika sampai, seperti biasa Jembatan Emas selalu dipenuhi pengunjung, apalagi weekend seperti ini. Ada banyak sekali kendaraan yang terparkir disana. Ku parkirkan motorku di sebelah kiri dekat dengan tiang jembatan. Sebuah tiang yang besar, berdiri kokoh nan gagah yang diatasnya bertuliskan 'jembatan emas', jembatan yang rampung dibangun tahun 2016. 'EMAS' sendiri kepanjangan dari Eko Maulana Ali Suroso' mantan gubernur Babel yang sekarang sudah wafat. Di sebelah kiri jembatan terdapat pantai Koala (beberapa warga Babel menyebutnya Pantai Mudel). Sebuah pantai berpasir putih dengan air yang tenang. Tempat dimana orang-orang duduk bersantai. Aku duduk di atas jembatan. Melihat dari atas memandang laut, memandang dunia yang terdiri atas  ruang dan waktu, memandang dunia yang penuh dengan misteri. 

Aku meletakkan dagu ku di besi pagar jembatan. Mata ku memotori layaknya bunglon, melihat apa saja yang bisa ku lihat. Ku pandang laut dari kejauhan, airnya biru menyejukkan. Sembelir angin sengaja masuk ke dalam sela-sela baju ku, membelai setiap jengkal bagian tubuhku. Cukup membuat bulu kuduk ku berdiri, ku pejamkan mataku, ku tarik nafas dalam-dalam, lalu ku keluarkan secara perlahan-lahan. Dada ku naik turun. Berharap pikiran ku kembali segar. Berharap masalah ku hilang tanpa terbeban. 

Setelah puas di sebelah kiri jembatan, aku pindah ke sebelah kanan. Kalau disebelah kiri ada pantai, di sebelah kanannya ada sungai dan pelabuhan bernama Pelabuhan Pangkal Balam. Pelabuhan ini melayani jasa angkutan barang dari daerah lain dan tempat bongkar muat barang yang akan di distribusikan ke daerah lain di Bangka Belitung. Disana tempat dimana kapal-kapal mendarat. Tempat dimana kapal2 besar pengangkut barang berlalu lalang. Disana tidak sedikit para nelayan menangkap ikan menggunakan perahu kecil. 

Di sebelah kanan jembatan, kita bisa menyaksikan betapa indahnya Senja. Selain menyukaimu, aku juga menyukai senja. Entah mengapa senja selalu membuat ku terkagum-kagum ketika melihatnya. Senja memamerkan warna yang sangat Indah di langit cakrawala. Semua warna bisa ditampakkan. Kuning keemasan, ungu, hijau, merah padam, nila, jingga. Bahkan bisa juga menampakkan warna yang mungkin manusia belum pernah sama sekali melihatnya di dunia ini. Ada banyak sekali warna disana. Senja yang hadir selalu membuat hamba-Nya terkagum-kagum. Sore itu, adalah waktu yang sangat tepat menyaksikan senja. Mungkin habis satu buku untuk menjelaskan tentang senja. Aku duduk sambil melihat senja yang perlahan kembali ke peraduannya. Mendekati garis horizontal. Sebuah garis pembatas langit dan bumi. Aku terheran-heran. Tuhan bisa menciptakan alam seindah ini. Senja memang selalu Indah, aku sampai geleng kepala, gila-gilaaa. Aku bertanya-tanya dalam hati "Mengapa Tuhan menciptakan dunia seindah ini? ". Barang kali Tuhan sengaja menciptakan semuanya untuk dinikmati oleh hamba2-Nya dan senantiasa lebih bersyukur dan tawakal atas apa yang telah di berikan. 

Aku duduk nyaris tanpa mengedipkan mata. Mata ku fokus melihat senja. Aku benar-benar menikmati momen sore itu. Mulutku sibuk mengunyah Batagor yang ku beli seharga 5 ribu. Ku lihat orang-orang di sekitarku mengabadikan momen indah dengan ponsel miliknya. Penampakan-penampakan seperti ini yang aku butuhkan. Aku sering bertanya mengapa senja selalu datang dengan durasi yang sangat singkat? lalu cepat2 senyap dimakan malam? Kenapa senja tidak lama? Mungkin 5 jam, 10 jam atau bahkan 24 jam. Mengapa malam begitu terburu-buru? Padahal senja begitu mempesona, sangat-sangat mempesona. Kata orang2 kebanyakan yang ku dengar bahwa segala sesuatu hal yang indah biasanya hanya datang sebentar, lalu pergi. Mungkin. Entahlah aku juga kurang tahu tentang hal itu. Aku hanya mendengar itu dari orang-orang. Ku rasa benar. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi Pahit

     Malam kemaren aku bertemu dengan Alina di sebuah Cafe yang ada di Pangkalpinang. Ia selalu mengajak ku kesana ada sesuatu yang ingin dia ceritakan. sebenarnya sudah lama, tetapi aku belum punya waktu itu, mungkin sekrang aku terlalu sibuk atau memang terlalu menyibukkan diri hingga tidak punya waktu untuk bertemu. entahlah. 

Nekad

                                                                                Nekad      Covid-19 atau biasa disebut virus corona membuat sosialisasi antar manusia jadi terbatas. Membuat semua orang mengurung niatnya untuk bertatap muka ( face to face ). Tetapi itu tidak berlaku untukku. Aku bersi kerasa untuk tetap dan ingin bertemu, walaupun berkali-kali Ia bilang untuk tidak bertemu dulu. terlalu berisiko katanya. Aku bilang aku bosan dan aku rindu. Obat paling mutahir ketika rindu adalah bertemu. Hingga akhirnya ia mengiyakan dan menuruti kemauanku untuk bertemu. Dia juga rindu katanya.        Dan kami berdua memutuskan pergi ke suatu tempat yaitu pantai, tempat favorit kami berdua. Tempat yang kami pikir bisa menghilangkan rasa lelah, penat ...