Langsung ke konten utama

PERIHAL MENUNGGU

Perihal menunggu,aku yang paling tahu. Langit saja sudah jemu menyaksikan kebodohanku yang terus meyakini sebuah kalimat darimu. "Tunggu aku," katamu beberapa waktu llu. kala itu, aku hanya mengangguk setuju. Namun, ternyata menunggumu tak pernah semudah yang kubayangkan. aku harus menunggumu, yang sedang berbagi rasadengan sosok lain disisimu. Sungguh, aku meragu pada apa yang bentang di hadapan kebersamaan kita pada masa depan yang direncanakan. menunggu menjadi jalan terbaik sampai kupikir, kita tidak bisa berada ei jalan yang sama lagi. tidak denganmu.
Siapakah yang paling tahu tentang masa depan? Baik aku maupun kau, tak ada yang bisa menentukan. Hidup ini seperti uang logam. Satu sisi adalah masa depan yang kuyakini–kebersamaan, sedangkan satu sisi lain adalah masa depan yang kauyakini–perpisahan. Kita hanya perlu menunggu tangan semesta melemparkan uang logam itu dan melihat sisi mana yang akan muncul dan menjadi kenyataan.

Aku percaya, bahwa tanpamu segalanya akan baik-baik saja; tak melahirkan luka. Tetapi, ketika detik kian gulir, luka itu pun lahir-di dadaku. Ada yang berbeda, jalan ini taklagi sama dan kepalaku mengingat satu nama: kamu. Namun, entahlah. Aku belum begitu yakin.
Berwaktu-waktu aku meyakini bahwa kau akan kembali. Suatu hari nanti, pasti. Adakalanya aku ingin berhenti karena kau terlihat berbahagia dan tak mengingatku barang sekali. Mungkin kau sudah lupa ada aku di sini. Sesekali, aku ingin melihat ke arah yang berbeda, kepada sosok selainmu–yang selalu kutunggu. Aku juga ingin bahagia sepertimu–dengan sosok yang baru.
Lalu mengapa tak kau cari saja seseorang sebagai penggantiku di hatimu? Barangkali, menunggu ialah perkataan bodoh yang pernah kuucapkan-membangun dinding untuk langkah majumu. Lupa? Entahlah, aku hanya terlalu percaya bahwa di jalan yang berbeda denganmu, aku menemukan diriku. Coba tanya sendiri pada hatimu. Sudah relakah kau melihatku mencintai sosok lain seperti aku mencintaimu? Apakah kau bisa sepertiku; mencintai seseorang yang tak membalasnya? Kau taklagi utuh, tidak dengan seseorang yang membersamaimu sekarang. Meskipun aku melangkah, meninggalkan apa yang selama ini aku yakini, aku tahu sosok baru takmampu membuatku utuh lagi.
Di sana tubuhku membeku-suatu waktu, aku sadar bahwa pelabuhan rasaku ini bukanlah pada seseorang yang kucintai saat ini. Bahwa rasaku masih mengembara, mencari tempat bersemayam. Dan angin menunjukkannya jalan pulang-hatimu. Tetapi, benarkah itu? Masih ada setitik keraguan. Tentang masa depan itu.
Apakah artinya setitik ragu di antara lautan masa depan yang membentang? Aku tidak menjanjikan apa-apa, tetapi kau tahu sendiri seperti apa cinta yang selama ini tinggal di hatiku tanpa pernah sekelebat cahaya pun pergi. Aku telah menunggu lama–bukan lagi hitungan bulan. Sedikit banyak, aku mulai bosan. Mungkin sosok baru bisa saja lebih menjanjikan.
Dan sungguh, penantianmu membuka mataku bahwa perasaan abadi ialah yang tumbuh dan menguat bersama waktu. Dan, itu kamu. Yang selalu percaya denganku, meskipun aku tidak pernah menyadari bahwa kamu ternyata pelabuhan yang kucari selama ini. Bila begitu, maukah kamu menunggu satu kali lagi? Sehingga, aku bisa menemukan jalan pulang-padamu.
Menunggumu sekali lagi? Tidakkah selama ini cukup? Aku sebenarnya tak yakin, tetapi hingga waktu yang entah kapan, aku tahu kaulah seseorang yang akan menemaniku berjalan. Bahkan, jika aku mampu hidup seribu tahun lagi dan kau memintaku menunggu seribu kali lagi, kautahu jawabanku–aku akan selalu menunggumu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona Jembatan Emas

........ Sore itu tepatnya Sabtu, 17 Oktober 2020. Aku sengaja pergi mengunjungi tempat yang aku rasa itu bisa menenangkan pikiran, menghilangkan stress dan mengusir kebosananku. Menjauh dari bisingnya dunia, menjauh dari bayang-bayang angan. Sendirian tanpa melibatkan orang. Aku biasa mengunjungi tempat-tempat yang aku sukai, tempat yang ku rasa bisa membuat diri kembali berenergi.  Di sebuah jembatan Emas. Tempat dimana orang-orang datang sekadar untuk refreshing atau memanfaatkan waktu luangnya, apalagi di masa pandemi ini yang dimana orang2 lebih banyak di rumah.  Sore itu... Aku sengaja pergi menggunakan motor Vario Merah kesayanganku, menggunakan helm GM berwarna hitam, lengkap dengan jaket dan masker. Aku berangkat sekitar pukul 5 sore. Aku melejit di jalan Raya, Ku tancap gas dan menyalip-nyalip dengan lincah. Tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana. Ketika sampai, seperti biasa Jembatan Emas selalu dipenuhi pengunjung, apalagi weekend seperti ini. Ada banyak sekali...

Kopi Pahit

     Malam kemaren aku bertemu dengan Alina di sebuah Cafe yang ada di Pangkalpinang. Ia selalu mengajak ku kesana ada sesuatu yang ingin dia ceritakan. sebenarnya sudah lama, tetapi aku belum punya waktu itu, mungkin sekrang aku terlalu sibuk atau memang terlalu menyibukkan diri hingga tidak punya waktu untuk bertemu. entahlah. 

Nekad

                                                                                Nekad      Covid-19 atau biasa disebut virus corona membuat sosialisasi antar manusia jadi terbatas. Membuat semua orang mengurung niatnya untuk bertatap muka ( face to face ). Tetapi itu tidak berlaku untukku. Aku bersi kerasa untuk tetap dan ingin bertemu, walaupun berkali-kali Ia bilang untuk tidak bertemu dulu. terlalu berisiko katanya. Aku bilang aku bosan dan aku rindu. Obat paling mutahir ketika rindu adalah bertemu. Hingga akhirnya ia mengiyakan dan menuruti kemauanku untuk bertemu. Dia juga rindu katanya.        Dan kami berdua memutuskan pergi ke suatu tempat yaitu pantai, tempat favorit kami berdua. Tempat yang kami pikir bisa menghilangkan rasa lelah, penat ...