Aku dan kamu pernah menjadi kita. Kita pernah
memperjuangkan kisah yang sama. Kita pernah duduk di senja yang sama. Kita
pernah teduh berdua serambi menunggu reda. Kita pernah memburu sunrise membelah
jalanan kota di pagi buta. Merasakan dinginnya udara pagi menusuk tulang dan
mata yang masih bengkak karena kurang tidur.
Lalu bercengkerama sampai matahari tak lagi memancarkan rona warna yang
indah (sunrise). Kita pernah menghabiskan malam di telepon. Pernah melakukan
banyak hal-hal indah.
Aku tahu semua perihalmu. Lagu-lagu apa saja yang
kamu sukai dan sering memutarnya di Indekos tempat perisitirahatan selama aku
kuliah. Juga diam-diam selalu nyanyikan sepenuh jiwa. Aku tahu makanan apa yang
kamu senangi, kita punya selera makanan yang sama. Aku juga hafal judul buku
apa saja yang sudah kamu baca.
Kamu orang yang pantas aku perjuangkan, dulunya.
Merasakan suka dan duka bersama-sama. Aku benar-benar jatuh cinta waktu itu.
Hingga menjadikanmu sebagai orang yang ku jadikan sebagai pemanis hari-hari ku.
Aku masih ingat bagaimana dulu ketika kita sedang tak lagi punya uang dan saat
kita lagi punya uang.
Tetapi, kini kita bukan siapa-siapa lagi. Kamu,
orang yang selalu aku perjuangkan, orang yang aku kira akan menetap selamanya,
ternyata pergi begitu saja, meninggalkan kenangan dan luka yang pernah kita
ukir bersama-sama. Kau lebih memilih dia. Kamu dan aku terpisah oleh kelelahan.
Kita yang berusaha ternyata perasaan itu tandas juga. Kita memilih jalan
sendiri-sendiri. Saling pergi dan sama-sama berkata tak ingin kembali. Kamu
telah bahagia dengan orang lain, sedangkan aku masih belum bisa menerima
kenyataan. Belum bisa menerima apa yang terjadi.
Terpukul aku dengan semua itu. Namun, tidak ada
alasan untuk tetap mempertahankanmu. Kamupun tahu, meski pedih aku perlahan
belajar merelakanmu, meski itu tak mudah bagiku. Butuh banyak waktu untuk
menata diri. Aku berusaha melepas dan melupakan semuanya. Karena kau tahu,
tidak ada gunanya meratapi kesedihan berlama-lama. Aku ingin seperti dulu lagi
seperti sebelum aku mengenalmu.
Namun entah mengapa tiba-tiba saja kamu melintas
dibenakku. Aku tak pernah paham, meski tidak sedang memikirkanmu, kamu
melayang-layang di kepalaku. Sekuat hati ku coba meredakan, tetapi semakin
nyata hadirmu adanya. Aku tak bisa mengelak. Aku tak bisa melupakan semua
kenangan yang telah kita lalui bersama. Berat memang.
Salah satu hal yang paling ku sesali adalah mengapa
dulu aku sekeras itu memperjuangkanmu. Mengapa dulu aku terlalu banyak berharap
kepadamu dan pada akhirnya kau mencampakanku dan meninggalkan luka yang amat
teramat perih. Pernah ada seseorang bilang “jangan terlalu banyak berharap
kepada seseorang, karena jika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, yang
ada hanya lah sakit hati, mencintailah sewajarnya” eh ni menurutku sih
hihihi....
Kucoba untuk menjalani hari-hari dengan sendiri.
Mencoba menenangkan diri. Setelah patah hati, begitu susah rasanya untuk bisa
tersenyum kembali. Aku memilih melarikan diri pada hal-hal yang bukan aku. Aku
berusaha mencari aktivitas apa saja yang bisa aku lakukan. Apapun itu. Aku
menangis sejadi-jadinya hingga membuat mataku sembab. Berharap dengan menangis
perasaan itu lega. Namun yang terasa tetap saja sakitnya. Aku mencari
kontak-kontak orang yang bisa aku ajak bicara lewat ponsel. Ku hubungi beberapa
orang sebagai pelampiasanku. Berharap orang merasakan apa yang aku rasakan.
Jahat memang, menjadikan orang lain sebagai pelampiasan sedihku. Namun, hanya
itu yang dapat aku lakukan saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi
melenyapkanmu dalam pikiranku. Menangis sejadi-jadinya, ternyata belum mampu
memulihkan keadaanku.
Sekarang semuanya hanya menjadi sesuatu yang sering
datang kembali ke kepalaku. Terutama saat datang ke tempat dimana kamu dan aku
pernah bersama. Meski rasanya berbeda. Aku tidak menemukan kita lagi disini.
Seperti senja sore ini, rasanya tidak pernah bersama, walau sepenuh hati aku
mencoba menikmatinya. Senja disini jauh lebih sedih daripada yang dulu pernah
terasa begitu indah. Aku kadang tidak mau pergi ketempat yang dulu pernah kita
singgahi, bukan karena apa. Aku hanya takut itu menyiksa batinku aku tidak mau
itu terngiang-ngiang lagi dikepalaku.
Sejujurnya, aku pernah berada pada fase mencintai sepenuhnya. Ingin memilih seutuhnya., selamanya. Aku lupa, ada hal yang lebih kuat dari diriku. Ada maha perencana yang lebih hebat daru rencana ku. dan sungguh menyedihkan, hampir satu minggu aku tidak makan. Patah hati. Kuliah berantakan. Apa lagi sekrang aku lagi fokus menyelesaikan studi ku. Di dunia ini memang tidak ada yang bisa kita miliki sepenuhnya. Meski kita bisa saja mencintai nya sepenuh hati. Dan saat mencintai seseorang, ads hal yang harus kita terima, yaitu resiko. Siap lahir dan batin ketika dikhianati, di tinggal pergi. Melepaskan atau dilepas paksa.
Sejujurnya, aku pernah berada pada fase mencintai sepenuhnya. Ingin memilih seutuhnya., selamanya. Aku lupa, ada hal yang lebih kuat dari diriku. Ada maha perencana yang lebih hebat daru rencana ku. dan sungguh menyedihkan, hampir satu minggu aku tidak makan. Patah hati. Kuliah berantakan. Apa lagi sekrang aku lagi fokus menyelesaikan studi ku. Di dunia ini memang tidak ada yang bisa kita miliki sepenuhnya. Meski kita bisa saja mencintai nya sepenuh hati. Dan saat mencintai seseorang, ads hal yang harus kita terima, yaitu resiko. Siap lahir dan batin ketika dikhianati, di tinggal pergi. Melepaskan atau dilepas paksa.
Setiap kenangan dan luka yang pernah terasa, memang
lebih dalam membekasnya. Meski aku tak pernah memintanya, tetapi lukanya tetap
saja tak sepenuhnya pergi. Menyiksa malam-malamku. Menyesakkan dalam diamku.
Entah mengapa, lebih mudah mengingat luka dibanding bahagia. Apakah hati
manusia memang dirancang seperti itu???
Tapi aku mengerti, tak selamanya aku seperti ini.
Aku harus bisa keluar dari zona ini. Aku tidak perlu bersedih berlarut-larut,
tidak perlu berdiam diri seperti ini. Cara terbaik untuk bertahan diri adalah
dengan berjalan. Mencari lagi jalan baru. Bukan memaksa menetap dengan
seseorang yang tidak lagi merasakan rindu. Karena aku sadar, diluar sana ada
orang lain yang begitu mencintaiku. Ada orang lain yang bersedia dengan tulus
memulai hal baru denganku. Seseorang yang siap merasakan suka dan duka
bersama-sama. Ada satu hal penting: ada kalanya didunia ini, untuk urusan hati,
kita harus ikhlas merelakan kepergian dia dalam kehidupan kita, sesulit apapun
itu. Tidak perlu kita menangisi sesuatu hal yang sudah terjadi, terus bersedih
tidaklah baik untuk diri kita sendiri. Tidak perlu meratapi dalam-dalam setiap
kenangan yang bisa menyesakkan dada dan menyiksa diri. Kita perlu memberi kesempatan
pada orang yang peduli.
(17/06/2020)

Lanjtkan kak
BalasHapusSiap dek, makasih
Hapus