Langsung ke konten utama

Patah hati





Aku dan kamu pernah menjadi kita. Kita pernah memperjuangkan kisah yang sama. Kita pernah duduk di senja yang sama. Kita pernah teduh berdua serambi menunggu reda. Kita pernah memburu sunrise membelah jalanan kota di pagi buta. Merasakan dinginnya udara pagi menusuk tulang dan mata yang masih bengkak karena kurang tidur.  Lalu bercengkerama sampai matahari tak lagi memancarkan rona warna yang indah (sunrise). Kita pernah menghabiskan malam di telepon. Pernah melakukan banyak hal-hal indah.
Aku tahu semua perihalmu. Lagu-lagu apa saja yang kamu sukai dan sering memutarnya di Indekos tempat perisitirahatan selama aku kuliah. Juga diam-diam selalu nyanyikan sepenuh jiwa. Aku tahu makanan apa yang kamu senangi, kita punya selera makanan yang sama. Aku juga hafal judul buku apa saja yang sudah kamu baca.
Kamu orang yang pantas aku perjuangkan, dulunya. Merasakan suka dan duka bersama-sama. Aku benar-benar jatuh cinta waktu itu. Hingga menjadikanmu sebagai orang yang ku jadikan sebagai pemanis hari-hari ku. Aku masih ingat bagaimana dulu ketika kita sedang tak lagi punya uang dan saat kita lagi punya uang.
Tetapi, kini kita bukan siapa-siapa lagi. Kamu, orang yang selalu aku perjuangkan, orang yang aku kira akan menetap selamanya, ternyata pergi begitu saja, meninggalkan kenangan dan luka yang pernah kita ukir bersama-sama. Kau lebih memilih dia. Kamu dan aku terpisah oleh kelelahan. Kita yang berusaha ternyata perasaan itu tandas juga. Kita memilih jalan sendiri-sendiri. Saling pergi dan sama-sama berkata tak ingin kembali. Kamu telah bahagia dengan orang lain, sedangkan aku masih belum bisa menerima kenyataan. Belum bisa menerima apa yang terjadi.
Terpukul aku dengan semua itu. Namun, tidak ada alasan untuk tetap mempertahankanmu. Kamupun tahu, meski pedih aku perlahan belajar merelakanmu, meski itu tak mudah bagiku. Butuh banyak waktu untuk menata diri. Aku berusaha melepas dan melupakan semuanya. Karena kau tahu, tidak ada gunanya meratapi kesedihan berlama-lama. Aku ingin seperti dulu lagi seperti sebelum aku mengenalmu.
Namun entah mengapa tiba-tiba saja kamu melintas dibenakku. Aku tak pernah paham, meski tidak sedang memikirkanmu, kamu melayang-layang di kepalaku. Sekuat hati ku coba meredakan, tetapi semakin nyata hadirmu adanya. Aku tak bisa mengelak. Aku tak bisa melupakan semua kenangan yang telah kita lalui bersama. Berat memang.
Salah satu hal yang paling ku sesali adalah mengapa dulu aku sekeras itu memperjuangkanmu. Mengapa dulu aku terlalu banyak berharap kepadamu dan pada akhirnya kau mencampakanku dan meninggalkan luka yang amat teramat perih. Pernah ada seseorang bilang “jangan terlalu banyak berharap kepada seseorang, karena jika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, yang ada hanya lah sakit hati, mencintailah sewajarnya” eh ni menurutku sih hihihi....
Kucoba untuk menjalani hari-hari dengan sendiri. Mencoba menenangkan diri. Setelah patah hati, begitu susah rasanya untuk bisa tersenyum kembali. Aku memilih melarikan diri pada hal-hal yang bukan aku. Aku berusaha mencari aktivitas apa saja yang bisa aku lakukan. Apapun itu. Aku menangis sejadi-jadinya hingga membuat mataku sembab. Berharap dengan menangis perasaan itu lega. Namun yang terasa tetap saja sakitnya. Aku mencari kontak-kontak orang yang bisa aku ajak bicara lewat ponsel. Ku hubungi beberapa orang sebagai pelampiasanku. Berharap orang merasakan apa yang aku rasakan. Jahat memang, menjadikan orang lain sebagai pelampiasan sedihku. Namun, hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi melenyapkanmu dalam pikiranku. Menangis sejadi-jadinya, ternyata belum mampu memulihkan keadaanku.
Sekarang semuanya hanya menjadi sesuatu yang sering datang kembali ke kepalaku. Terutama saat datang ke tempat dimana kamu dan aku pernah bersama. Meski rasanya berbeda. Aku tidak menemukan kita lagi disini. Seperti senja sore ini, rasanya tidak pernah bersama, walau sepenuh hati aku mencoba menikmatinya. Senja disini jauh lebih sedih daripada yang dulu pernah terasa begitu indah. Aku kadang tidak mau pergi ketempat yang dulu pernah kita singgahi, bukan karena apa. Aku hanya takut itu menyiksa batinku aku tidak mau itu terngiang-ngiang lagi dikepalaku.
Sejujurnya, aku pernah berada pada fase mencintai sepenuhnya. Ingin memilih seutuhnya., selamanya.  Aku lupa, ada hal yang lebih kuat dari diriku.  Ada maha perencana yang lebih hebat daru rencana ku.  dan sungguh menyedihkan,  hampir satu minggu aku tidak makan. Patah hati. Kuliah berantakan.  Apa lagi sekrang aku lagi fokus menyelesaikan studi ku. Di dunia ini memang tidak ada yang bisa kita miliki sepenuhnya.  Meski kita bisa saja mencintai nya sepenuh hati. Dan saat mencintai seseorang,  ads hal yang harus kita terima, yaitu resiko. Siap lahir dan batin ketika dikhianati, di tinggal pergi. Melepaskan atau dilepas paksa. 
Setiap kenangan dan luka yang pernah terasa, memang lebih dalam membekasnya. Meski aku tak pernah memintanya, tetapi lukanya tetap saja tak sepenuhnya pergi. Menyiksa malam-malamku. Menyesakkan dalam diamku. Entah mengapa, lebih mudah mengingat luka dibanding bahagia. Apakah hati manusia memang dirancang seperti itu???
Tapi aku mengerti, tak selamanya aku seperti ini. Aku harus bisa keluar dari zona ini. Aku tidak perlu bersedih berlarut-larut, tidak perlu berdiam diri seperti ini. Cara terbaik untuk bertahan diri adalah dengan berjalan. Mencari lagi jalan baru. Bukan memaksa menetap dengan seseorang yang tidak lagi merasakan rindu. Karena aku sadar, diluar sana ada orang lain yang begitu mencintaiku. Ada orang lain yang bersedia dengan tulus memulai hal baru denganku. Seseorang yang siap merasakan suka dan duka bersama-sama. Ada satu hal penting: ada kalanya didunia ini, untuk urusan hati, kita harus ikhlas merelakan kepergian dia dalam kehidupan kita, sesulit apapun itu. Tidak perlu kita menangisi sesuatu hal yang sudah terjadi, terus bersedih tidaklah baik untuk diri kita sendiri. Tidak perlu meratapi dalam-dalam setiap kenangan yang bisa menyesakkan dada dan menyiksa diri. Kita perlu memberi kesempatan pada orang yang peduli.

                                                                                                           (17/06/2020)


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona Jembatan Emas

........ Sore itu tepatnya Sabtu, 17 Oktober 2020. Aku sengaja pergi mengunjungi tempat yang aku rasa itu bisa menenangkan pikiran, menghilangkan stress dan mengusir kebosananku. Menjauh dari bisingnya dunia, menjauh dari bayang-bayang angan. Sendirian tanpa melibatkan orang. Aku biasa mengunjungi tempat-tempat yang aku sukai, tempat yang ku rasa bisa membuat diri kembali berenergi.  Di sebuah jembatan Emas. Tempat dimana orang-orang datang sekadar untuk refreshing atau memanfaatkan waktu luangnya, apalagi di masa pandemi ini yang dimana orang2 lebih banyak di rumah.  Sore itu... Aku sengaja pergi menggunakan motor Vario Merah kesayanganku, menggunakan helm GM berwarna hitam, lengkap dengan jaket dan masker. Aku berangkat sekitar pukul 5 sore. Aku melejit di jalan Raya, Ku tancap gas dan menyalip-nyalip dengan lincah. Tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana. Ketika sampai, seperti biasa Jembatan Emas selalu dipenuhi pengunjung, apalagi weekend seperti ini. Ada banyak sekali...

Kopi Pahit

     Malam kemaren aku bertemu dengan Alina di sebuah Cafe yang ada di Pangkalpinang. Ia selalu mengajak ku kesana ada sesuatu yang ingin dia ceritakan. sebenarnya sudah lama, tetapi aku belum punya waktu itu, mungkin sekrang aku terlalu sibuk atau memang terlalu menyibukkan diri hingga tidak punya waktu untuk bertemu. entahlah. 

Nekad

                                                                                Nekad      Covid-19 atau biasa disebut virus corona membuat sosialisasi antar manusia jadi terbatas. Membuat semua orang mengurung niatnya untuk bertatap muka ( face to face ). Tetapi itu tidak berlaku untukku. Aku bersi kerasa untuk tetap dan ingin bertemu, walaupun berkali-kali Ia bilang untuk tidak bertemu dulu. terlalu berisiko katanya. Aku bilang aku bosan dan aku rindu. Obat paling mutahir ketika rindu adalah bertemu. Hingga akhirnya ia mengiyakan dan menuruti kemauanku untuk bertemu. Dia juga rindu katanya.        Dan kami berdua memutuskan pergi ke suatu tempat yaitu pantai, tempat favorit kami berdua. Tempat yang kami pikir bisa menghilangkan rasa lelah, penat ...